Tentang Cefil

Kontek dan dinamika

Civic Education for Future Indonesian Leaders (CEFIL) adalah program pendidikan demokrasi dan kepemimpinan bagi aktivis organisasi masyarakat sipil di Indonesia. CEFIL dirancang di penghujung era Tertib Politik yang telah 32 tahun mengendalikan seluruh sektor kehidupan masyarakat Indonesia. Di tengah krisis ekonomi dan dinamika politik Indonesia yang berlangsung cepat, SATUNAMA meyakini bahwa Soeharto akan segera jatuh dan berakhir. Tertib Politik Orde Baru hanya menunggu waktu untuk jatuh. Aksi-aksi gerakan mahasiswa yang menyatu dengan rakyat mulai sering melakukan demonstrasi menuntut Soerharto mundur dari kursi kepresidenan. Soeharto tidak hanya menghadapi tuntutan mahasiswa dan rakyat, akan tetapi ia menghadapi rongrongan dari lingkaran dalam Soeharto sendiri. Ketika itu elit-elit Golkar, ABRI dan Birokrat penyokong Soeharto mulai memperlihatkan tanda-tanda menjauh darinya dan membuat kekuasaannya semakin rapuh.

Konteks ekonomi-politik Indonesia tersebut membuat SATUNAMA mengambil inisiatif untuk menyiapkan pemimpin-pemimpin masyarakat sipil bervisi demokrasi dalam menyambut era pasca Soeharto. Inisiatif ini dimulai dengan menyelenggarakan Workshop yang digelar di Yogyakarta dengan melibatkan 75 aktivis-aktivis senior organisasi masyarakat sipil dan berpengalaman dalam melakukan perlawanan demokratik terhadap rezim Soeharto pada bulan Oktober tahun 1997. Hasilnya adalah penyatuan gagasan dan terbangunnya kesepakatan untuk merancang program Pendidikan Kepemimpinan dan Demokrasi bagi Pemimpin Masyarakat Sipil, yang kemudian dikenal dengan sebutan Civic Education for Future Indonesian Leaders (CEFIL).

CEFIL secara berkala mulai dilaksanakan tahun 1998 hingga tahun 2014 (16 tahun). Pada periode 1998-2008 pelatihan CEFIL dilaksanakan selama 30 hari di SATUNAMA Yogyakarta, biasa disebut CEFIL panjang. Berdasarkan dinamika dan kebutuhan alumni, sejak 2009 hingga sekarang CEFIL dilaksanakan secara bertingkat: CEFIL Level I (Basic); CEFIL Level II (Intermediate); dan CEFIL III (Advance). Selain di Yogyakarta, CEFIL bertingkat juga dilaksanakan di Pontianak-Kalimantan Barat tahun 2009-2010, Maumere-Nusa Tenggara Timur tahun 2010-2011, Manado-Sulawesi Utara tahun 2012-2013 dan Lampung pada tahun 2014.

Tujuan CEFIL

  • Menumbuhkan pemimpin-pemimpin organisasi masyarakat sipil yang memiliki visi dan komitmen yang kuat terhadap demokrasi, memiliki kepekaan terhadap penderitaan rakyat, memiliki kemampuan dalam mengelola organisasi dan mampu melakukan komunikasi untuk mempengaruhi opini publik;
  • Mempromosikan demokrasi yang berbasis kewargaan (citizenship democracy); dan
  • Mendukung aktor-aktor demokrasi untuk mengambil inisiatif memperkuat kualitas demokrasi.

Pelatihan CEFIL

Pelatihan CEFIL mulai dilaksanakan pada tahun 1998. Periode 1998-2008 pelatihan CEFIL dilaksanakan selama 1 bulan- dan biasa disebut CEFIL Panjang. Berdasarkan dinamika dan kebutuhan alumni, pada tahun 1999 pelatihan CEFIL dilakukan secara bertingkat (CEFIL Level) dan dilakukan selama 1 minggu. Pada tahun itu juga, pelatihan CEFIL yang semula hanya dilaksanakan di Yogyakarta mulai dilaksanakan di daerah-daerah.

  • Level I : Didesain untuk menciptakan pemimpin masyarakat sipil yang memiliki komitmen kuat terhadap demokrasi dan kebangsaan. Pada level ini peserta akan mendalami isu-isu seputar nilai-nilai universal, prinsip-prinsip demokrasi, gender, globalisasi, kepemimpinan, analisis sosial, komunikasi publik, manajemen konflik dan strategi pengorganisasian masyarakat sipil.
  • Materi pelatihan CEFIL Level I : Secara umum materi yang didiskusikan dalam pelatihan CEFIL Level I meliputi: (1) Civil Society dan partisipasi warga negara; (2) Demokrasi; (3) Universal Value-HAM dan Globalisasi; (4) Leadership; (5) Analisis Sosial; (6)Komunikasi Massa bagi Pemimpin; (7) Strategi Pengorganisasian Masyarakat Sipil; (8) Manajemen Konflik berperspektif perdamaian.
  • Level II : Didesain untuk memperkuat pengetahuan dan kemampuan analitik pemimpin masyarakat sipil dalam kerangka demokratisasi di Indonesia. Pada level ini, peserta akan mendalami: perkembangan diskursus tentang demokrasi dan isu-isu terkait: HAM, kewargaan, representasi, penegakan hukum, kontrol rakyat dan ruang publik; kemampuan analitik: analisa sosial dan analisa kekuasaan dalam rangka mendesain rencana penguatan kualitas demokrasi di Indonesia.
  • Materi yang diberikan pada pelatihan CEFIL level II diantaranya adalah sebagai berikut: (1) Analisis Sosial [power analysis]; (2) Live-in; Praktek Analisis Sosial [power analysis]; (3) Media dan opini publik; (4) Demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia; (5) Demokrasi dan representasi politik di Indonesia; (6) HAM demokrasi dan Perempuan; (7) Gerakan perempuan dan kesetaraan gender dalam pasca otoritarianisme Soeharto; (8) Konflik: Strategi dan taktik resolusi konflik (Damai); (9) Ekonomi kerakyatan Indonesia; (10) Kepemimpinan Dalam Wawasan Kebangsaan.
  • Level III : Didesain untuk memperkuat kapasitas politik pemimpin masyarakat sipil dalam mengembangkan demokrasi dan hak-hak publik. Pada level ini peserta akan meningkatkan keterampilan dan kemampuan merencanakan, mendesain serta melakukan agenda setting dan politisasi isu dan kepentingan publik, linkage politik antara pemimpin masyarakat sipil dengan basis sosialnya dengan strategi dan pendekatan politik damai (peaceful politic).
  • Pada CEFIL Level III peserta akan diperkuat dengan materi sebagai berikut: (1) HAM, Kemanusia-an, Keadilan Gender & Komitmen Konstitusi; (2) Sistem Ekonomi dan Geopolitik Global; (3) GNH (Gross National Happiness); (4) Masyarakat Multikultur; (5) Live-in; (6) Negosiasi – Lobi; (7)

Narasumber dan Fasilitator

Ada lebih dari 150 fasilitator dan narasumber berpengalam yang terlibat, diantaranya: Dadang Juliantara (LAPERA), Eva Kusuma Sundari (Anggota DPR RI), Emmanuel Subangun (Yayasan Alocita), Heru Nugroho (CCSS), Ichsan Malik (Aktivis Resolusi Konflik), Raymond Toruan (Jurnalis), Taty Krisnawati (Aktivis perempuan), Indra J. Piliang (CSIS), Methodius Kusumahadi (SATUNAMA), Michael B. Hoelman (Ilmu Politik UGM), Nur Syahbani Katjasungkana (aktivis & politisi), Thamrin Amal Tamagola (sosiolog UI), Usman Hamid (aktivis HAM), Utama P. Sandjaja (LSPP), Wiliardi Budiharga (UPC) dan lain-lain.