Kisah Alumi CEFIL: Iin Narniyati

Kisah Alumi CEFIL: Iin Narniyati

Sosoknya pipih, tingginya hanya satu setengah meter. Di pagi hari dia mencari rumput, menyiapkan sarapan untuk anak semata wayangnya, Ira Sofiyatul Mu’rifah dan suaminya, Abdul Gafur. Sesudahnya, ia membuka bengkel tambal ban di depan rumahnya. Siang hari ia ulang alik naik turun perbukitan di kawasan Pleret, Bantul, Yogyakarta, mengurusi Jaringan Perempuan Usaha Kecil ( JARPUK ).

Namanya Iin Narniyati. Perempuan yang biasa disapa Iin ini mendirikan sekaligus mengurus kelompok yang beranggotakan 600 orang itu. Awalnya, ketika paska gempa tahun 2007, dia melihat ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya kehilangan semangat bekerja karena hartanya habis. Mereka memutuskan untuk berkumpul dan mencoba bangkit kembali. “Yah, pelan-pelan saja,” katanya. Anggota JARPUK yang rata-rata pedagang kecil merasa perlu saling menguatkan. “Ya bingung juga tidak punya apa-apa,” katanya. “Kalau sendirian saja nanti malah tidak bisa berbuat banyak.”

Iin menjalankan roda organisasinya hanya berbekal pengalaman dan niat. Sampai pada suatu ketika ia merasa kebingungan. “Sebenarnya mau dibawa kemana organisasi ini,” katanya. “Saya ndak tahu. Rasanya sudah putus asa.”

Melalui seorang kawan, Iin diajak mengikuti Civic Education For Indonesian Leader (CEFIL). CEFIL adalah pelatihan dari divisi Capacity Building SATUNAMA. Pada 2010, pelatihan ini mendidik 243 orang dari seluruh Indonesia. Para peserta diajak mengenal nilai-nilai universal dan mempelajari kemampuan teknis seperti resolusi konflik, analisa sosial dan pengorganisasian massa. “Ini yang saya butuhkan bagi organisasi,” katanya.

Iin merasa minder. “Saya lihat teman-teman pintar-pintar,” katanya. “ Ada yang S2, ada yang sudah lama di NGO. Saya cuma lulusan SMA.” Meskipun begitu, Iin bertekad mengalahkan perasaannya. “ Karena saya tahu saya ingin belajar.”

Iin terkesan dengan CEFIL. “Otak yang selama ini istilahnya mbilung dibongkar,” katanya – dalam dunia pewayangan, Mbilung bersaudara dengan Togog. Mereka diceritakan sebagai pengikut raja atau ksatria yang berwatak jahat. “Selama ini kita memiliki pemimpin yang mbilung,” katanya. “Yang membingungkan, yang tidak punya konsep.” CEFIL mengajarkan kepada Iin nilai-nilai menjadi pemimpin yang baik. Ia mengibaratkan,”Seperti orang lapar tetapi tidak langsung disuapi,” katanya.

Setelah kembali ke komunitasnya, Iin merasa lebih percaya diri. “Sekarang saya tidak putus asa lagi,” katanya. “Saya sudah tahu apa yang mesti saya lakukan untuk organisasi.”





ShortURL: http://cefil.info/?p=8 |