Pilpres 2014 : Berkelahinya Tiga Faksi Borjuasi

Pilpres 2014 : Berkelahinya Tiga Faksi Borjuasi

Banyak orang berpikir dan membayangkan bahwa momentum politik 9 Juli yang akan datang merupakan peristiwa yang menandai terjadinya perubahan episodik dalam politik Indonesia. Orang lupa atau pura-pura lupa bahwa momentum itu sebenarnya hanyalah sebuah ritual dari siklus pergantian kepemimpinan pemerintahan melalui proses politik minimalis demokrasi elektoral. Perubahan yang berlangsung melalui proses politik elektoral itu sendiri hanyalah sebuah perubahan politik periodik, berlangsung lima tahun sekali.

Sudah lama para pemikir politik kontemporer membedakan antara perubahan politik yang bersifat episodik dan periodik. Jika perubahan politik periodik terbatas pada apa yang berlangsung pada tingkat policy dan hanya menyangkut aspek-aspek administratif dan distributif penyelenggaraan kekuasaan, perubahan episodik lebih menyangkut transformasi pada tingkat polity dan berkaitan dengan pergeseran-pergeseran relasi kekuasaan. Dilihat dari perspektif ini perubahan politik lima tahun sekali yang bersifat periodik tidak akan serta merta mengubah basis struktural kekuasaan yang selama ini bertahan dalam sistem demokrasi elektoral kita.

Saya termasuk yang skeptis membayangkan pemilihan Presiden sekarang bisa mengantarkan terjadinya perubahan politik yang bersifat transformasional, apalagi yang punya dampak pada perubahan relasi-relasi kekuasaan secara struktural.

Selama 15 tahun terakhir ini, demokrasi elektoral hanya mengantarkan munculnya kekuatan-kekuatan elite yang menguasai seluruh medan permainan politik; kemudian yang juga didukung oleh golongan modal yang mengalami transformasi menjadi oligarki ketika mereka akhirnya juga masuk ke kompetisi politik kepartaian. Dengan kata lain, politik elektoral akhirnya hanya menjadi ajang perebutan pengaruh di kalangan faksi-faksi politik kaum borjuasi.

Setidaknya ada tiga faksi borjuis yang sedang bersaing melalui pemilihan presiden sekarang ini. Pertama adalah faksi borjuis peninggalan tradisi kapitalisme otoritarian sultanistik yang dulu berpusat di Cendana. Kekuatan ini praktis sudah rapuh secara politik dan tidak terepresentasi dalam partai manapun – meski masih punya kekuatan ekonomi yang amat besar.

Kedua adalah para kroninya yang sekarang dalam keadaan paling powerful dan berpencar ke dalam berbagai partai – sebagian besar adalah partai-partai korup – dan menjadi inti kekuatan oligarki pasca Orde Baru. Mereka ini adalah kekuatan kekuatan konservatif yang selalu menghambat agenda-agenda reformasi.

Ketiga, adalah faksi borjuasi yang berbasis pada jaringan-jaringan kekuatan bisnis lokal yang selama ini menanggung beban biaya korupsi birokratik dari rezim jenis yang pertama maupun kedua; dan karena itu ingin melakukan perubahan terbatas untuk gerakan “reform from within.” Baru-baru ini Max Lane, dalam status Facebook-nya menyebut faksi terakhir ini sebagai sejenis berjuasi lokal yang lahir akibat kapitalisme neoliberal yang terdesentralisasi, dan yang tumbuh melalui politik demokrasi elektoral.

Dengan melihat konfigurasi politik berbasis faksionalisme borjuasi itu, kita bisa melihat bahwa dalam kompetisi pilpres sekarang ini faksi pertama diwakili oleh Prabowo Subiyanto; faksi kedua diwakili oleh hampir seluruh anggota partai koalisinya yang bersama-sama mengusung Prabowo karena memang tidak punya tokoh populer; dan faksi ketiga oleh Jokowi. Dengan bergabungnya faksi pertama dan faksi kedua, maka faksi terakhir ini sesungguhnya sedang berada dalam situasi dikroyok. Alasan pengeroyokan tak lain adalah karena gebrakan “reform from within” ala Jokowi – termasuk revolusi mental yang dicanangkannya – akan secara langsung mengancam basis kekuasaan kedua faksi sebelumnya. Basis kekuasaan yang terancam itu adalah korupsi birokratik, kolusi nepotistik, dan elitisme patronalistik.

Pertanyaannya, seberapa besar kekuatan yang terancam oleh desakan perubahan itu akan melakukan pukulan balik? Inilah persoalan urgen sesungguhnya, bahkan di tengah-tengah ketidakpastian mengenai sikap tentara terhadap Jokowi. *** (AE Priyono)





ShortURL: http://cefil.info/?p=714 |