Ketua Komnas HAM : 2014 Indonesia harus Dipimpin Generasi Baru



Wawancara I Gede Edy Purwaka dengan Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim ini dilakukan usai Seminar “Refleksi KeIndonesiaan dan Kepemimpinan Indonesia Masa Depan.” Seminar yang digelar merupakan rangkaian kegiatan Temu Alumni CEFIL-SATUNAMA, bertempat di Balai Persatuan Taman Siswa, Yogyakarta, Sabtu (29/9). Ifdhal mengungkapkan, tahun  2014 Indonesia sebaiknya diisi dengan generasi baru Indonesia, yaitu orang yang lahir tahun 1960-an. Orang yang lahir tahun 40 dan 50-an sudah selesai. Demikian wawancara lengkapnya.

Bentuk kepemimpinan Indonesia yang paling cocok di masa depan  ?

Sumber rekruitmen kepemimpinan di Indonesia sepertinya sudah baku dari masa pergerakan Indonesia merdeka sampai sekarang sumber kepemimpinan berasal dari pertama kalangan intelektual, kalangan yang bergerak di bidang empowering masyarakat. Sumber kedua dari pesantren yang melahirkan tokoh politik dari agamawan. Ketiga adalah aristokrasi,  yaitu mereka yang ada dalam struktur kekuasaan di Indonesia sebelum merdeka dan  Saat kemerdekaan mereka yang memiliki posisi sosial lebih tinggi mempunyai peluang menjadi pemimpin. Keempat adalah orang yang berasal dari tentara kolonial dan organisasi kemahasiswaan yang berbasis pada daerah.

Masa orde baru terjadi perubahan proses rekruitmen pemimpin, masa orde baru sumber kepemimpinan hanya berasal dari 2 tempat, yaitu militer dan technocrat (guru besar di perguruan tinggi )

Masa reformasi, sumber  intelektual kepemimpinan kembali melebar dan meluas.

Apa yang menarik dari sumber intelektual ini ? pada masa Kolonial dibangun kesadaran bersama tentang Indonesia. Ini dibuktikan dengan  munculnya  suatu gagasan menyatukan hindia belanda sebagai Indonesia. Imajinasi tentang Indonesia dibangun oleh mereka-me. Hasil dari imajinasi itu adalah pemahaman Indonesia itu plural dan terdiri dari berbagai macam daerah / agama dan budaya yang berbeda dari satu tempat ke tempat  lain. Oleh karena itu diperlukan perekat dari keberagaman.

Soekarno menyadari hal ini dan membangun  konsep untuk menyatukan dengan nama pancasila, begitu juga dengan bung hatta yang mengungkapkan persatuan itu tidak bisa seperti  persate-an, tetapi harus memahami keragaman.  Ada dalam persatuan tapi tidak dalam persatean. Persatuan menunjukkan heterogenitas dari berbagai macam masyarakat yang mempunyai otonomi masing-masing yang kemudian menyatu dalam satu wadah yang namanya Indonesia.

Elit kepemimpinan di masa kemerdekaan itu menyadari tentang pluraritas dan mendorong masyarakat untuk bersatu membayangkan Indonesia sebagai satu kesatuan Negara yang dilandasi oleh berbagai keragaman, konsep ini tetap bertahan sampai merdeka dimana elit politiknya membangun imagi tentang Indonesia yang terus dipelihara keragamannya dan tidak mau melakukan control dan pengawasan terhadap berbagai macam golongan, ideology dan agama. Tapi bagaimana mengelola itu dalam satu nama, Indonesia. Oleh karena itulah system politiknya dinamakan system demokrasi,

Ilustrasi ini menggambarkan generasi awal memiliki kesadaran yang sangat tinggi tentang keberagaman.

Bagaimana dengan masa orde baru ?

Pada masa orde baru, karena militer yang menang maka terjadi perubahan kepemimpinan, proses rekrutemen pemimpin mulai dari angkatan darat. Jajaran pemimpin formal maupun informal berasal dari tentara dan ini membuat pergeseran cara pandang tentang kebhinekaan. Pluraritas dianggap sebagai sesuatu yang membahayakan persatuan. Karena itu diadakan pengawasan terhadap keberagaman. Karena itu partai politik tidak boleh banyak. Ormas harus disatukan ke dalam satu wadah, karena dianggap otonomi dari masing-masing kelompok membahayakan stabilitas politik. Nah inilah yang menggeser pluralism bergeser sama sekali di masa orde baru dan ini merusak cara kita memahami pluralism. Di masa orde baru, begitu ada ketegangan langsung di represi, karena itu tidak muncul dengan gamblang, karena pemberangusan. Ini yang mempersempit pandangan pimpinan yang memandang Indonesia sebagai Negara yang plural, yang lebih menonjolkan ‘kesatuan’ bukan ‘persatuan’.

Apakah masyarakat sipil berpeluang menjadi pemimpin Indonesia masa depan ?

Paska reformasi sumber kepemimpinan melebar,seperti pada masa awal kemerdekaan, yang muncul di era reformasi ini adalah orang-orang dari  masyarakat sipil (Komunitas Akademik, NGO).

Persepsi tentang Indonesia ke depan lebih baik, karena bayang-bayang persatuan yang dibangun oleh militer itu sudah mulai hilang diganti dengan kepemimpinan anak muda.

Kepemimpinan 2014 ?

Indonesia di 2014 sebaiknya sudah diisi dengan generasi baru Indonesia, yaitu orang yang lahir tahun 1960-an. Orang yang lahir tahun 40 dan 50-an sudah selesai.  Kesempatan mengisi panggung politik di Indonesia sebaiknya diisi anak muda, karena orang yang lahir tahun 60-an tidak punya trauma politik di masa lalu, karena itu lebih merespon kebutuhan Indonesia abad 21 yang sangat berbeda dengan abad 20.

Menurut saya, masa depan kepemimpinan Indonesia ini akan lebih baik kalau dipegang oleh generasi baru, meskipun mereka dibesarkan dalam orde baru, namun mereka terbuka dengan gagasan baru, oleh karena itu  mereka akan membawa wawasan yang lebih luas. Kendalanya adalah ada orang yang sumber  intelektualnya lebih berakar dari paham keagamaan, yang kemudian semangatnya adalah mencoba memasukkan paham keagamaan sebagai basis munculnya kebijakan public.

Akan muncul persaingan pemimpin Indonesia masa depan yang basis intelektualnya dari sekolah barat dengan mereka yang basis intelektualnya dari timur tengah yang tidak hanya studi namun juga aktif sebagai aktivis di organisasi keagamaan.  Ini akan mempengaruhi persepsi mereka terhadap system politik yang akan mereka bangun.

Ketegangan politik di masa depan, ada pemimpin yang ingin melanjutkan basis Indonesia yang bhineka ada juga rivalitas dengan kelompok ingin menjadikan agama sebagai basis dengan mempengaruhi kebijakan public bersumberkan ajaran agama mereka. Kalau rivalitas ini tidak dimenangkan oleh kelompok intelektual yang lebih bebas, ini akan menganggu Indonesia masa depan.

Seberapa besar CEFIL dapat mempengaruhi kepemimpinan Indonesia masa depan dan materi apa yang paling penting ?

Menurut saya ini sangat urgen ditengah situasi saat ini. Indonesia dengan sumber kepemimpinan yang sangat banyak dan basis intelektualnya yang beragam penanaman semangat kewarganegaraan ini dan mengarahkan pemimpin berfikir keIndonesiaan daripada satu paham yang sempit menjadi penting. Karena itu intervensi  yang dilakukan oleh SATUNAMA dalam bentuk pendidikan pemimpin sangat relevan. Selain itu medannya juga perlu diperluas, menurut saya kampus saat ini sudah sangat tersegregasi, kita lihat mahasiswa berhimpun atas nama agama dan paling menyedihkan mereka berkumpul dengan daerahnya masing-masing. Sehingga membayangkan dirinya sebagai orang Indonesia itu sulit, menurut saya pelatihan ini sangat relevan jika menjangkau kalangan muda di perguruan tinggi tidak hanya kalangan aktivis dari NGO atau politisi muda dari partai. Menurut saya yang hilang adalah edukasi dalam rangka membangun  ke-Indonesiaan.  Yang kita perlukan adalah pemimpin yang tidak terperangkap oleh kepentingan suku, agama, kelompok. Tapi lebih mementingkan Indonesia.





ShortURL: http://cefil.info/?p=60 |