Antini Praktekkan Pelatihan CEFIL di Kampungnya



“Aku senang ada acara ini (Temu Alumni CEFIL). Selain jumpa dengan teman-teman CEFIL, pasti ada yang baru mengenai tema ini,” tutur Antini yang kini relawan Cut Nyak Dien.

CEFIL bagi Antini menjadi sarana refresh setelah tiga tahun tidak berkegiatan sama sekali berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat, terutama perempuan dan anak-anak. “Memang sih, saya pikir waktu ikut CEFIL II, peserta yang ikut semuanya sudah berpengalaman di dunia perLSM-an. Ternyata ada beberapa yang mahasiswa gaul, yang ketika berdiskusi diammmm, tapi setelah di luar kelas ternyata bisa ngobrol banyak. Hahahihi lah sepertinya. Padahal kita bisa belajar dari tokoh-tokoh yang menjadi narasumber kita,” kisah perempuan asal Yogyakarta ini.

Menurut Antini yang mengikuti CEFIL II dan III tahun ini, CEFIL II dan III memiliki perbedaan yang cukup banyak. “Kalau di CEFIL III, tidak banyak lah yang hahahihi, kebanyakan memang sudah berpengalaman di dunia LSM. Tentu saja bukan sekedar bagi pengalaman.”

Fasilitator yang mumpuni dan ahli di bidangnya masing-masing sangat membuka cakrawala berpikir hingga pada proses implementasi.  Belum lama ini, Antini kembali berkegiatan di sela kesibukannya, dengan para perempuan dan anak-anak di kampungnya. “Aku mau coba masuk dengan pendidikan kritis perempuan sampai hal-hal yang mungkin dianggap kecil, yaitu mengembalikan dolanan anak-anak,” tambah Antini. (Ninuk Setya Utami)





ShortURL: http://cefil.info/?p=48 |