Laporan Kunjungan ke Korea



Berikut ini laporan Edy Maryono dari lembaga ASOH (propinsi Aceh, Kab.Aceh Barat, Meulaboh) yang mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Korea dalam rangka Korean Travel Trip atas biaya KAS.

Seoul, Hari pertama, 12 Oktober 2011

Memasuki Korea, pesawat Garuda Indonesia Boeing 737 dengan no penerbangan 898 mulai menurunkan ketinggiannya.Saya mulai melihat daratan dengan bukit-bukit kecil dengan petak – petak sawah rapi seakan seluruh kawasan milik satu orang saja. Sawah dikelilingi oleh hutan dan tidak terlihat lahan yang ditinggalkan seperti di Indonesia.Anehnya, saya juga tidak melihat rumah dengan ukuran seperti di Indonesia.Hanya ada gedung dengan berbagai ukuran.Di kawasan Incheon, gedung – gedung terlihat seperti tumbuhan kaktus putih berjajar tanpa cabang. Rata – rata berwarna putih dan semuanya serba teratur.

Saya tiba di Incheon sekitar jam 08,45 waktu setempat. Terlihat tulisan Welcome to Incheon airport, the largest airport in Asia. Saya sempat kebingungan karena bandara ini luas sekali. Saya mencari penumpang berwajah Indonesia untuk bertanya. Di pintu keluar, seorang supir taksi telah menunggu.Dengan Bahasa Inggris yang tidak terlalu lancar, sopir tersebut menyarankan supaya saya ganti pakaian di toilet bandara saja.Waktu telah menunjukkan pukul 9 dan pertemuan pertama akan dimulaisetengah jam lagi.

Saya sampai di gedung parlemen pukul 10 lewat 10 menit.Pertemuanpertama antara anggota parlemen Korea yang juga ketua persahabatan Parlemen Korea – Jerman telah dimulaidan tidak seorangpanitiapunterlihat di luar gedung. Saya harus menunggu pertemuan pertama tersebut selesai untuk bergabung.

Pukul 10:45, Rombongan keluar dari gedung parlemendan menyalami saya sembari meminta maaf. Rapat tersebutsangat formilsehingga sulit bagi panitia untuk keluar ruangan atau memasukkan peserta di tengah rapat.

Pukul 11 kami bergerak ke gedung GNP Headquarter 6th floor untuk mengikuti rapat dengan MR Son In Seok yang dihadiri oleh seluruh Partisipant, lima orang panitia dari KAS, 1 orang dari Youth Korean dan anggota IYDU yang berasal dari berbagai Negara.

Tema pertemuan ini adalah aktivitas generasi muda Korea yang tergabung dalam The Grand National Party, Partisipasi generasi Muda di Korea dan seluruh dunia dan bagaimana untuk mengajak orang yang tidak tertarik dalam masalah politik.
Kegiatan dibuka oleh Koordinator KAS Korea sambil menjelaskan tujuan dari kedatangan seluruh peserta. Acara dilanjutkan dengan perkenalan peserta yang diundang oleh KAS Korea. Koordinator KAS Korea kemudian mempersilahkan Chairman Of IYDU dari Germany untuk menjelaskan tentang IYDU, visi dan misi, serta keanggotaan dan tujuan umum pertemuan yang diinginkan dari beberapa pertemuan dengan stakeholder penting di Korea ini. Pertemuan berlanjut dengan penjelasan yang disampaikan oleh Mr Son In Seok dengan menggunakan slide dalam Bahasa Korea yang diterjemahkan oleh Ms Lee Ke dalam Bahasa Inggris selama sekitar 15 menit. Hasil meeting yang saya tangkap dalam pertemuan ini adalah: 1). Korea, melaui Grand National Party (GNP), telah membina generasi muda yang ada di Korea di berbagai Propinsi yang ada melalui sebuah organisasi yang dibentuk oleh GNP dengan nama The Youido Institute (YDI) yang berbasis pada kebijakan partai untuk menyiasati berbagai situasi terkini di Korea. Generasi muda yang ada di berbagai organisasi biasanya diberi wawasan terhadap politik dan kemudian yang tertarik dapat bergabung menjadi anggota YDI yang pada akhirnya akan menjadi anggota dari Grand national Party. 2). Untuk saat ini, keikutsertaan generasi pemuda di Korea dalam demokrasi dan segala pernak perniknya tidak lebih dari 20%, sehingga upaya yang dilakukan oleh YDI dalam memberikan sosialisasi akan pentingnya proses – proses pemilu di Korea akan menjadi langkah penting untuk majunya Negara secara keseluruhan, karena kekuatan yang dibangun melalui pemilu dapat menjadi landasan kuat begi Pemerintah terpilih dalam menentukan kebijakan.

Pukul 12:15, Acara berlanjut dengan makan siang dengan menu masakan Korea dan acara foto bersama.

Pukul 14:00, Acara dilanjutkan dengan berkunjung ke kediaman Presiden termasuk mengunjungi beberapa gedung dan lokasi sekitar kantor dan kediaman Presiden (Blue House) sekitar 3 jam. Tour dimulai dengan melihat–lihat kantor kepresidenan, istana dan gedung pertemuan yang biasanya digunakan saat rapat akbar. Kegiatan juga diisi dengan pertemuan dengan kepala staf kepresidenan (mewakili presiden yang pada saat bersamaan ada pertemuan dengan Presiden Barrack Obama di Washington). Fokus pembicaraan tentang pola kerja Presiden, kepegawaian, sistem keamanan dan kebiasaan presiden dalam keseharianya. Acara selesai sekitar jam 17.

Pukul 17:25, Kegiatan berlanjut dengan pertemuan bersama Mr Hwang Yo Yeah, selaku Floor Leader of GNP yang juga merupakan anggota Parlement Korea. Meeting ini membicarakan isu sekitar kondisi perpolitikan yang ada di Korea saat ini, isu tentang GNP menjelang pemilu yang akan datang dan generasi muda Korea dalam konteks perpolitikan. Seperti pertemuan yang lain, acara dibuka oleh Koordinator KAS Korea (Dr. Nobert Eschborn). Kemudian berlanjut dengan penjelasan tujuan dan perkenalan delegasi oleh IYDU Chairman (Daniel Walther) dan kemudian disusul oleh persentasi yang disampaikan oleh Mr Hwang Yo Yeah. Dari persentasi dan beberapa tanya jawab yang ada, saya mendapatkan gambaran bahwa koordinasi yang ada di tubuh GNP saat ini berjalan dengan sangat solid. Termasuk peran serta partai ini dalam merebut suara yang berasal dari generasi muda yang ada di Korea secara umum. Meski jika dilihat dari hasil pemilu lalu, suara yang didapat dari generasi muda kurang dari 20% dari seluruh generasi pemuda secara menyeluruh. Namun pada pemilu yang akan datang, peningkatannya bisa signifikan. Karena ada program sosialisasi akan pentingnya memberikan suara dalam pemilu. Termasuk dengan memanfaatkan jasa media elektronik maupun media cetak juga melalui program – program yang mereka salurkan melalui organisasi YDI.

Acara ini selesai sekitar jam 6:30 sore yang kemudian rombongan pulang ke arah hotel untuk makan malam di sebuah restoran Itali.

Hari kedua, 13 Oktober 2011
Setelah acara pertemuan di lobi hotel pukul 10 30, rombongan berangkat ke Gedung Parlemen dan sampai sekitar pukul 11:30 untuk menghadiri meeting dengan President Grand National Party (GNP) MR. Chung, Doo-Un rapat berlangsung selama setengah jam dan sangat formil. Rapat dimulai dengan pembukaan yang disampaikan oleh koordinator KAS Korea dengan menyampaikan maksud kehadiran delegasi pemuda dari beberapa unsur dan harapan yang ingin diperoleh dengan adanya kegiatan tersebut, terkait program – program yang dilaksanakan GNP, sehinnga pada masa yang akan datang kondisi demokrasi di Negara lain juga dapat sebaik di Korea selatan ini.

Rapat kemudian dilanjutkan dengan sambutan dan perkenalan dari chairman of IYDU yang menjelaskan tentang organisaSI iYDU mulai dari keberadaanya, tujuan – tujuannya, keanggotaan dan tujuan mereka hadir di Korea ini dan dilanjutkan dengan memperkenalkan seluruh peserta yang berasal dari keanggotaan IYDU yang ada di ruangan tersebut.
Pertemuan berlanjut dengan penjelasan tentang organisasi YDI secara lebih detail sekaligus penjelasan tentang situasi di Korea saat ini. Termasuk program program kepemudaan secara umum di Korea, dan yang paling spesifik adalah tentang hubungan antara YDI dan KAS Korea.

Acara kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan siang selama sekitar 2 jam sambil tanya-jawab antara peserta dengan Presiden GNP.

Pukul 14:00 Rombongan bergerak menuju National Assembly Visitors Hall atau Museum Parlemen Korea dengan pemandu berbahasa Inggris yang menjelaskan tentang gedung – gedung utama yang ada di sekitar gedung Parlemen. Proses – proses pembangunan demokrasi di Korea dan sejarahnya hingga sekitar pukul 16:00. Kemudian rombongan pulang ke Hotel.
Pukul 18:00 Pertemuan di lobi hotel yang diikuti oleh seluruh peserta dengan tema lanjutan kegiatan yang akan dilaksanakan pada jam berikutnya dan esok hari.

Pukul 17:00 Peserta sampai ke Seoul Plaza Hotel Ruby Hall (22th Floor) untuk menghadiri acara Political Roundtable. Kegiatan ini sangat khusus karena hadir pada pertemuan ini anggota Parlemen termuda yang juga berasal dari GNP, Mr Kim Se Yeon, beberapa anggota YDI, dan anggota penting lain di GNP. Kegiatan diisi dengan pembukaan yang dilakukan oleh koordinator KAS Korea kemudian perkenalan oleh chairman IYDU. Peserta dari India, Indonesia (saya), Bangladesh, dan Filipina kemudian menyampaikan persentasi. Acara ini berlangsung selama 1 jam dan berakhir dengan makan malam dan selesai sekitar pukul 22: 00.

Berikut ini rangkuman presentasi masing–masing peserta:
– India (Mr Pawan Khera), menyampaikan point penting mengenai situasi politik dan demokrasi. Ada berbagai permasalahan yang masih harus diselesaikan seperti masalah korupsi, kekerasan berbasis gender, kurangnya partisipasi masyarakat, demokrasi yang pincang antara kepentingan dan akses masyarakat.
– Dari Indonesia, saya membicarakan tentang beberapa permasalahan. Antara lain mengenai korupsi dimana Indonesia memiliki sebuah komisi khusus yang menangani bidang korupsi dengan kerja yang menurut pandangan saya bagus, namun dibayangi oleh banyaknya tantangan (saya menyebutnya mafia) dari berbagai komponen yang ada. Sebagai elemen masyarakat sipil, kami mendorong kerja KPK secara bersama – sama dengan berbagai organisasi yang ada di seluruh Indonesia agar masalah korupsi ini cepat diselesaikan. Saya juga menyinggung sedikit tentang kegiatan Partai Politik di Indonesia yang secara umum belum banyak membantu masyarakat. Terutama kalangan menengah kebawah dalam mendapatkan akses (yang seharusnya dibuat oleh parlemen dalam bentuk kebijakan dan diperjuangkan oleh Partai Politik untuk diundangkan). Kerja organisasi masyarakat sipil, seperti pemantauan dan evaluasi, masukan–masukan kepada pengambil kebijakan, pendidikan kepada masyarakat terutama kalangan generasi muda, dorongan, dan tekanan – tekanan serta advokasi di berbagai bidang, mampu memberikan perubahan – perubahan pada berbagai sektor. Hal ini sangat penting untuk terus dilanjutkan.
– Banglades (Mr Mahmud Hasan Ripon) menyampaikan persentasi terkait dengan banyaknya masyarakat miskin di negaranya akibatkan minimnya keseriusan para stakeholder yang berkuasa. Hal tersebut diperparah dengan sikap malas yang ditunjukkan oleh sebagian masyarakat. Karakter malas menjadi permasalahan serius karena menjadi pemandangan yang lazim di negaranya.
– Sementara peserta dari Philipina (Rica Bustamente) menyampaikan tentang situasi yang sama dengan peserta lain. Hanya saja beliau lebih menyoroti tentang minimnya peran perempuan dalam berbagai aktivitas politik di negaranya akibat stereotype terkait besarnya resiko yang kemungkinan dialami jika wanita lebih aktif dalam kegiatan diluar jam kerja normal. Dalam sebuah seminar ia pernah mendapat pertanyaan mengenai pekerjaannya yang sangat beresiko untuk seorang perempuan muda.

Hari Ke-tiga
Pukul 8 30 Acara hari ini adalah tour Demiliterized Zone (DMZ) atau berkunjung ke daerah perbatasan antara Korea Utara dengan Korea Selatan. Lokasi ini merupakan titik penting dalam sejarah perjalanan kedua Korea yang dimulai sejak beberapa tahun sebelum Masehi hingga keduanya berpisah dan menjadi musuh setelah Perang Korea tahun 1950 hingga 1953.
Perjalanan dari hotel ke lokasi Join Security Area (JSA) dilakoni selama 2 jam dengan menyusuri jalan TOL kearah utara Korea atau daerah perbatasan kedua Negara. Setelah melalui beberapa Pos pemeriksaan, akhirnya kami sampai di Joint Security Area (JSA) dan disambut oleh seorang Prajurit yang sangat fasih berbahasa Inggris. Ia menjelaskan berbagai hal, mulai dari sejarah Korea sebelum masehi, masa kerajaan, hingga tragedi – tragedi yang berkaitan dengan perang Korea 1950 – 1953. Setelah itu kami melihat – lihat semua lokasi di sekitar JSA dan mendapat penjelasan tentang fungsi dan peranan gedung masing – masing. Yang paling menarik adalah sebuah gedung yang berdiri diantara kedua Negara. Di sana, kita diperbolehkan untuk menginjakkan kaki di Korea Utara hingga jarak kurang dari 3 meter.

Setelah itu melihat – lihat sekitar check point 1 – 4 yang selalu diawasi berbagai pasukan. Kami meninggalkam lokasi sekitar pukul 12:15.

Pukul 12:30 Kami sampai ke sebuah gedung di atas bukit yang dinamakan Unification Park. Dari gedung yang berada di ketinggian 200 meter dpl, kita bisa melihat Korea Utara secara lebih luas karena Gedung dibangun di ketinggian sekitar 200 meter dari permukaan laut. Di Gedung ini, selain makan siang kami juga mendapat penjelasan mengenai proses unifikasi yang telah dilakukan oleh kedua Negara. Pukul 14:00, kami kembali ke Hotel.

Jam 17:00 Rombongan melakukan rapat di lobi hotel yang berlanjut dengan pertemuan dengan Mr Park Chan-Bong selaku Kepala urusan pemerintah dalam Bidang Unifikasi Korea di Aula Seoul Plaza Hotel. Acara ini dihadiri oleh seluruh peserta dari IYDU, KAS, YDI dan staf khusus pemerintah bidang Unifikasi Korea. Pertemuan dimulai oleh koordinator KAS Korea dan berlanjut dengan perkenalan dari Chairman IYDU. Setelah itu, Mr Park Chan Bong menyampaikan persentasi tentang rencana unifikasi. Mr Park Chan Bong mengatakan bahwa kedua Negara Korea berasal dari 1 keluarga pada jaman pra sejarah, atau 2000 tahun sebelum Masehi. Bangsa ini hidup rukun hingga pada abad ke 20, kedua Negara terpisah akibat gejolak di semenanjung yang dipicu oleh kehadiran tentara Jepang pada tahun 1920 – 40 an. Termasuk hilangnya sebuah kawasan penting yang kemudian menjadi wilayah China Propinsi Gwangdong. Berbagai upaya dilakukan oleh kedua Negara untuk bersatu. Namun, belum ada kesepakatan, termasuk perseteruan akibat pembangunan fasilitas persenjataan. Kegiatan ini selesai sekitar pukul 18:30 yang kemudian berlanjut dengan acara jamuan makan malam sampai pukul 21.00.
Catatan penting saya tentang perjalanan ini yang dirangkum dari beberapa hasil pertemuan, diskusi – diskusi, brosur pengamatan pribadi dan Internet.

1. Korea Selatan.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 48 Juta lebih, Korea Selatan adalah sebuah Negara yang tergolong maju di berbagai sektor, seperti pertanian, pendidikan, dan industri. Hal ini terbukti dengan banyaknya produk penting yang berhasil menembus pasar dunia. Dari segi tata ruang kota, terutama Seoul yang jumlah populasi lebih dari 11 juta jiwa, tertata dengan sangat rapi. Saya tidak menemukan kawasan kumuh, macet, atau tumpukan sampah yang tak terkendali. Di seluruh sudut kota, yang terlihat adalah gedung – gedung dengan arsitektur modern, taman atau jalan raya yang dilengkapi dengan trafic light, termasuk di tempat – tempat penyeberangan orang. Di sektor pertanian, hampir seluruh kawasan memiliki lahan pertanian. Berdasar pantauan saya hanya terdapat 2 jenis tanaman, padi yang ditanam di sawah yang teratur rapi tiap petaknya, atau tanaman palawija dengan sistem vakum dalam ruangan tertutup.

Saya sedikit heran karena tidak menemukan satu pun rumah penduduk yang berdiri di atas tanah (semua berbentuk gedung atau apartemen). Timbul pemikiran dalam benak saya mengenai akses atas kepemilikan tanah masyarakat. Ketika masalah ini saya tanyakan kepada salah seorang staf KAS yang berasal dari Korea, beliau menjawab: Bisa! Dengan ketentuan yang sangat ketat.
Dari beberapa pantauan tersebut, saya mendapat kesimpulan bahwa masyarakat Korea adalah masyarakat yang sangat tunduk, patuh menuruti peraturan dan memiliki jiwa nasionalisme yang cukup kuat. Dengan demikian, pemerintah lebih mudah dalam membuat regulasi demi kemajuan Negara-nya.

2. Youido Institute (YDI) Peserta tuan rumah Korean travel trip.
Youido Institute, adalah sebuah organisasi kepemudaan dibentuk oleh The Grand National Party pada tahun 1995 yang dipimpin oleh Yonghee Oh yang berpusat di Seoul, Korea Selatan. Organisasi ini bekerja untuk membantu Pemerintah dan Parlemen melalui masukan – masukan berdasarkan hasil penelitian. Organisasi ini juga bekerja untuk menguatkan kapasitas generasi muda Korea terutama yang menjadi anggotanya dan atau bergabung dengan The Grand National Party. Dalam perjalanannya, organisasi ini telah melakukan berbagai penelitian yang menjadi basis kebijakan pemerintahan Korea atau untuk Grand national Party dalam menghadapi setiap perkembangan yang ada. YDI juga melakukan jejak pendapat, survey dan berbagai bidang yang di geluti oleh sebagian besar Politikus di Korea Selatan. (www.ydi.or.kr)
3. International Young Democrat Union (IYDU)
IYDU adalah sebuah organisasi International yang berbasis di Jerman dengan tujuan dasar mengembangkan pola pikir generasi muda dalam melihat demokrasi dengan lebih dalam dan memahami sistem yang seharusnya dapat menjadi pijakan yang kuat bagi pemerintahan dalam mengembangkan system demokrasi yang ada, dimanapun anggotanya berada. Dalam aktivitas yang dilakukan, organisasi ini banyak melakukan konsolidasi dengan banyak organisasi kepemudaan di seluruh dunia dengan member masukan – masukan terkait generasi muda dan partisipasinya dalam demokrasi di Negara dimana organisasi anggotanya berada.
Rekomendasi hasil pertemuan Korea 11 – 15 Oktober 20011. (Saya buat berdasarkan kesimpulan yang saya peroleh dari hasil beberapa hari pertemuan.

1. Masing – masing peserta (melalui organisasi tempatnya bernaung) harus melanjutkan perjuangannya dalam upaya mencapai atau menegakkan demokrasi dengan cara dan sudut pandang yang sesuai dengan azas kemanusiaan dan berimplikasi pada masyarakat golongan menengah ke bawah. Dan organisasi induk (dalam hal ini IYDU) akan mensupport dalam bentuk konsul atau dukungan lain yang memungkinkan.

2. Pertemuan selanjutnya, untuk menyusun agenda kerja di tahun 2012 akan dilaksanakan di Australia (tanggal dan tempat belum ditentukan) dengan difasilitasi anggota IYDU yang ada di Australia.

3. Seluruh peserta yang hadir di Korea sangat diharapkan hadir di Australia mengingat pentingnya masukan – masukan yang diberikan selama pertemuan di Korea.





ShortURL: http://cefil.info/?p=37 |