Karnaval Lingkungan dan Lomba Celengan dalam rangka seperempat abad WALHI Yogyakarta



Berikut ini, laporan kegiatan dari Upi Gufiroh (staf Penggalangan Sumber Daya WALHI Yogyakarta), alumni CEFIL Intermediate IV dan CEFIL Advance.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Yogyakarta menggelar berbagai acara yang bertemakan “25 Tahun Menjemput Mimpi Organik”. Acara yang terselenggara pada tanggal 29 dan 30 Oktober 2011 ini merupakan bagian dari peringatan 25 tahun WALHI.

“Tujuan kegiatan ini adalah untuk mensosialisasikan dan mengkampanyekan kiprah Walhi yang selama ini telah, sedang, dan akan terus dilakukan Walhi Yogyakarta. Kami harap, dengan kegiatan ini akan mengingatkan masyarakat dari berbagai lapisan supaya mereka sadar akan tanggung jawab lingkungan yang diemban tiap manusia,” tutur Upi Gufiroh, ketua peringatan yang juga alumni CEFIL Intermediate IV (2011) dan CEFIL Advanced (2011). Ia juga menambahkan jika persoalan lingkungan hidup yang meskipun telah menjadi isu mainstream saat ini belum mampu mengurangi tingkat degradasi yang ada. Kerusakan lingkungan masih tampak dimana-mana, bahkan telah masuk ke tingkat yang lebih parah.

“Banyak para ilmuwan dan sarjana berdebat tentang hal signifikan apa yang melatar belakangi masif-nya kerusakan yang ada tersebut. Salah satu topik yang kerap diperbincangkan di kalangan pemerhati lingkungan hidup adalah tentang world view yang dipegang oleh sebagian besar masyarakat dunia yang selanjutnya tercermin dalam sikap hidup Kapitalis, Konsumeris, Hedonis dan Snobis. Sebuah pandangan hidup yang kemudian menghadap-hadapkan antara Ekosentrisme vs Antroposentrisme.”

“Maka apa yang seharusnya dilakukan saat ini adalah mengembalikan perilaku hidup yang terlanjur konsumeris tersebut pada sikap hidup yang lebih organik, dimana masyarakat diajak untuk sadar bahwa tidak hanya kebutuhan pribadi manusia saja yang harus dipikirkan, namun kebutuhan seluruh organisme yang ada dalam semesta ini butuh pula dipikirkan dan diberi penghargaan secara adil.”

Acara hari pertama, Sabtu (29/10) berisi diskusi tentang Kewalhian. Pembicara seperti Suparlan, S.Sos (WALHI Yogyakarta), Irsyad Thamrin, SH (LBH), Dr. Prabang Setyono (IALHI), Prof. Bobby Setyawan PSLH UGM) dan Bima Wijaya Putra (Mitra Tani), Dr. Eko Teguh Paripurno (Dream UPN) Dr. Danang Trihatmoko (PSBA UGM) memaparkan mengenai kondisi lingkungan di Yogyakarta selama 25 tahun terakhir serta rekomendasi untuk pengelolaan Yogyakarta 25 tahun kedepan.
Kegiatan berlanjut pada hari minggu dengan karnaval lingkungan, lomba melukis celengan gerabah, konser musik menjemput mimpi organik dan grand launching Donasi Hijo. Konser tersebut diisi oleh band-band yang membawakan lagu bertema lingkungan. Selain acara konser, acara tersebut juga merupakan grand launching Donasi Hijo yang dibuka dan diresmikan oleh kepala BLH Kota Yogyakarta.

Donasi hijo sendiri adalah program donasi yang diluncurkan loeh WALHI Yogyakarta untuk menghimpun dana-dana publik masyarakat Jogja yang hasilnya akan digunakan untuk perjuangan-perjuangan lingkungan WALHI. Ada beberapa program donasi yang saat ini dimiliki oleh WALHI Yogyakarta yaitu: Celengan Hijo: Penggalangan dana publik dengan media kotak yang disebarkan pada ruang-ruang publik seperti cafe, restoran, hotel, toko dan tempat-tempat strategis lainnya.

Mess Hijo: Penginapan yang berlokasi di kantor WALHI Yogyakarta yang sejuk dan asri dengan fasilitas: AC, Jaringan Wifi, Makan Pagi dan Ruang Rapat.

Pustaka Hijau: Perpustakaan yang menyimpan berbagai buku yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Pustaka Hijo juga melakukan usaha percetakan dan penerbitan buku.Kedai Hijo: Kedai Hijo berbentuk cafe yang menawarkan aneka minuman tradisional khas jogja yang bernuansa sejuk sehingga sering dijadikan tempat diskusi dan bertukar pikiran serta ide diantara para pemerhati sosial.





ShortURL: http://cefil.info/?p=35 |