PRESS RELEASE CEFIL-SATUNAMA



 

PRESS RELEASE CEFIL-SATUNAMA

Temu Alumni CEFIL (Civic Education for Future Indonesian Leaders)- SATUNAMA

“Menakar Kepemimpinan Indonesia Masa Depan”

Yogyakarta – 29-30 September 2012

 

Status :  Segera diwartakan

 

Masyarakat Sipil Ditantang Untuk Melawan Negara  Parasit dan Eksploitatif

 

Yogyakarta (Minggu, 30/9) –  Masyarakat sipil ditantang untuk melawan negara yang parasit dan eksploitatif, yang sesungguhnya telah terjadi sejak masa Orla (Soekarno), Orba (Soeharto), dan sekarang (Susilo Bambang Yudhoyono). Tiga jaman itulah yang membuat rakyat Indonesia “dihilangkan” eksistensinya. Pada masa Orla “rakyat hilang” diwujudkan dalam umat yang fanatik, dalam paham Nasakom. Pada masa Orba “rakyat hilang” menjadi apolitik, tentaralah yang berkuasa di segala lini . Masa kepemimpinan sekarang, “rakyat hilang” lagi, karena diwujudkan menjadi konsumen.

 

Demikian diungkapkan Emmanuel Subangun, Direktur Alocita, yang menjadi salah satu narasumber kunci pada rangkaian kegiatan terakhir Temu Alumni CEFIL-SATUNAMA,  “Diskusi Lintas Generasi tentang Menakar kepemimpinan Indonesia,” Minggu (30/9), di Kantor SATUNAMA, Sleman. Hadir beberapa tokoh aktivis veteran seperti Setia Adi Purwanta (Dria Manunggal), Elga Sarapung (Interfidei), PM Laksono (Pusat Studi Asia Pasifik UGM), Wahono (Cindelaras), Muchtar Abbas (Insist)  dan 30-an peserta diskusi dari berbagai daerah Indonesia, dari Aceh, Papua dan Timor Leste.

 

Pada bagian lain Setia Adi Purwanta menambahkan bahwa akar idiologis yang dianut Indonesia membuat rakyat sipil menjadi obyek ketidakadilan.  Sayangnya tidak banyak gerakan organisasi masyarakat sipil yang berjuang untuk anti kapitalisme bisa memberikan indikator yang jelas dan mudah dipahami oleh masyarakat awam, sehingga bisa dipahami sebagai kepentingan bersama yang bisa menjadi gerakan kuat untuk isu ini. Konsep anti kapitalisme justru dengan tegas ditandaskan oleh idiologi PKI yang dikenal sebagai : Ganyang 7 Setan Desa, dan Ganyang 3 Setan Kota. Bukan untuk menasbihkan PKI adalah yang benar tapi konsep kampanye anti kapitalisme PKI jauh lebih tegas dan kuat ukuran yang dipahami masyarakat jelata waktu itu.

 

“Jadi, “rakyat hilang” sejak lama. Negara adalah resonansi, dan kekuatannya (baca memperalat) rakyat. Maka negara berubah menjadi menjadi parasit dan eksploitatif. Alatnya adalah rumus aksiomatik yaitu yang memaksa kita, tanpa terasa, seolah tidak punya pilihan. Misalnya, yang diakui adalah yg ada harga dengan bernilai tukar. Tiba-tiba kita semua menjadi barang. Hubungan kita adalah “fetis” artinya “rakyat menjadi penyembah berhala- sesuatu yang sifatnya tidak penting menjadi sangat penting, atau sebaliknya. Maka jangan heran jika Sekolah pun mahal, kesehatanmu pun mahal, beli baju pun harus terlihat bagus. Fetisisme ini adalah produk akhir dari hukum dan politik, dimana yang menetralkan adalah pemerintah (dalam sistem partai), lalu ‘dibekuk’ oleh perusahaan, lalu terjadilah hukum besi,”jelas Subangun.

 

Menyambung pernyataan Subangun, Setia Adi Purwanta atau akrab dipanggil Pak Setia, menjelaskan bahwa pemahaman ekonomi Indonesia memang pro-kapitalisme, dan ini kemudian diperluas dan didokrinisasikan dalam dunia pendidikan di Indonesia sebagai satu-satunya pilihan dan kebenaran. Lalu negara Fetisisme seperti yang disebutkan Subangun, mengimplementasikannya dalam tatanan hukum, tatanan politik, budaya dan  tentu saja tatanan ekonomi. Sayangnya,  tidak ada penterjemahan tentang arti apa yang buruk dari  kapitalisme untuk rakyat jelata. Sementara Organisasi Masyarakat Sipil seolah terjebak dalam jargon dan tidak bisa memberikan indikator tentang arti anti kapitalisme bagi masyarakat sipil, seperti yang pernah dikampanyekan PKI, misalnya.

 

“PKI itu, suka atau tidak suka, sangat jelas dalam mengkampanyekan anti kapitalisme yang dia sebut sebagai Ganyang 7 Setan Desa dan Ganyang 3 Setan Kota, dalam bahasa yang dipahami jelata.  Itu konsep dasar anti kapitalisme yang dipahami masyarakat sipil. Jadi menurut saya, intervensi untuk mengubah cara pandang masyarakat sipil kita memang seharusnya dimulai dari dunia pendidikan kita. Itu jawaban solusi dari soal ini, menurut saya,” jelas  Setia lagi.

 

PKI pernah mendengungkan kampanye Ganyang 7 Setan Desa dan Ganyang 3 Setan Kota pada ulang tahun mereka, 23 Mei 1965. Ganyang 7 Setan Desa yaitu: 1). Tuan tanah, 2). Lintah darat, 3). Tengkulak jahat, 4). Tukang ijon, 5). Bandit desa, 6). Pemungut zakat, 7). Kapitalis birokrat desa. Sementara yang mereka maksud dengan Ganyang 3 Setan Kota adalah : 1). Kapitalisme birokrat (Kapbir), 2). Koruptor (pencolong), dan 3). Manipulator. Bahasa ini sangat sederhana namun dipahami jelata sebagai sesuatu yang jahat bagi kehidupan mereka, sehingga harus “diganyang” bersama.

 

Jika Setia Adi Purwanta memberikan solusi atas persoalan ini adalah pendidkan, Subangun justru menyerukan agar masyarakat sipil Indonesia tidak lagi menjadi masyarakat goblok – “rakyat yang hilang” pada tiga masa yang telah tersebut di atas.

 

“Ada beberapa alternatif yang bisa dipilih pada masyarakat di negara festis dengan hukum besi ini, yaitu segera mengkhianati pilihan itu (jadi masyarakat goblok), jangan merumuskan tiga hal (negara festis, resonansi dan hukum besi) ini secara salah, karena (artinya jadi) ilusi, yang sudah salah itu, maka kita salah keempat kalinya. Anda punya pilihan benar, tapi tetap memaksakan kepada orang lain secara paksa itu namanya idiologi,” tandasnya.

 

Para peserta diskusi yang adalah lulusan Pelatihan CEFIL itu pun sepakat, bahwa membangun gerakan masyarakat sipil yang lebih sistematis dan massif jauh lebih tepat. Sayangnya, hingga hari ini, belum ada satu pun yang bisa melakukannya dengan gemilang.

 

“Saat ini, ada berbagai masalah dalam kehidupan bernegara. Tapi secara konkrit kita hidup di masyarakat. Setidaknya kita perlu melakukan sesuatu. 2014 merupakan tantangan konkrit dan bagaimana peran kita di sana?” tutur Meth Kusumahadi, pendiri SATUNAMA.  Beliau juga mengingatkan pentingnya mempersiapkan agenda bersama yang bervisi ke depan, jejaring alumni yang kuat, dan partisipasi politik.

 

Tawaran-tawaran pemikiran yang muncul dalam temu alumni ini diperkuat dengan referensi perspektif  tentang posisi organisasi  masyarakat sipil terhadap keberpihakan rakyat di antara pemerintah, swasta (pemilik modal,perusahaan), dan ummat. Posisioning ini sangat penting untuk memastikan gerakan masyarakat sipil di tengah berbagai ketidakjelasan situasi sosial, budaya, dan politik.

 

Acara temu alumni CEFIL selain diselenggarakan di Yogyakarta, dengan mengambil tema  “Menakar Kepemimpinan Indonesia Masa Depan” ini  diadakan secara paralel di 12 daerah oleh para alumni CEFIL. Yakni: Meulaboh-Aceh, Medan-Sumatra Utara, Padang-Sumatra Barat, Jakarta-DKI Jakarta, Bandung-Jawa Barat, Semarang-Jawa tengah, Sleman-DI Yogyakarta, Tuban-Jawa Timur, Pontianak-Kalimantan Barat, Manado-Sulawesi Utara, Maumere-Nusa Tenggara Timor, dan Wamena Papua.

Civic Education for Future Indonesian Leades (CEFIL) merupakan pendidikan kewarganegaraan yang disetenggarakan oleh SATUNAMA sejak tahun 1998.  Dengan sekitar 2500 alumni dari berbagai organisasi masyarakat sipil di seluruh penjuru Indonesia, pelatihan ini diharapkan mampu memperkuat demokrasi di Indonesia.

Kontak Acara : Sana Ulaili (085742340243/085228548090; email :  oeryp@yahoo.com)

——

TIM MEDIA RELATION EVENT CEFIL SATUNAMA





ShortURL: http://cefil.info/?p=183 |