Sumatera Utara Buka Lowongan Calon Pemimpin Pro Rakyat



Pemilukada Sumatera Utara yang akan diselenggarakan pada Maret 2013 menjadi pembicaraan menarik dalam Temu Alumni Pelatihan Civic Education for Future Indonesian Leaders (CEFIL) Region Sumatera Barat, yang berlangsung di Medan (29/9). Alumni menyebut, Pemilukada Sumatera Utara minus calon pemimpin yang dekat dengan rakyat, berpihak dengan masyarakat sipil, serta bisa menjadi pemimpin alternatif, seperti Jokowi. Sosok pemimpin yang muncul hanya veteran-veteran birokrasi, politisi, militer dan tokoh-tokoh tidak pro rakyat. Rekam jejak para Balon yang muncul, disebutkan, tidak begitu menarik perhatian layaknya Pilkada DKI Jakarta.

Alumni CEFIL Regional Sumatera Utara menyebut, kesadaran politik masyarakat Sumut harus menjadi perhatian para alumni. Menurut Alumni CEFIL Regional Sumatera Utara mengungkapkan, masyarakat Sumut masih terkooptasi dengan pencitraan tokoh. Selain itu, dukungan terhadap calon independen dianggap masih sangat kurang dan masih kalah jauh dengan mesin politik parpol. Alumni CEFIL menilai, harus ada gerakan untuk memunculkan figure baru sebagai calon kepala daerah alternatif.

Isu krusial di Sumatera Utara yang harus menjadi perhatian kedua adalah mengenai konflik agraria dan atau reforma agraria. Sumut merupakan salah satu provinsi dengan jumlah konflik agrarian yang banyak dengan kasus bervariasi.  Sebut saja kasus “Kuala Namu, KIM, dan kasus-kasus lain perebutan tanah perkebunan di berbagai wilayah di Sumatera Utara. Alumni menilai, hal ini disebabkan ketidaksiapan lembaga Negara seperti Badan Pertanahan Nasional, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, dan lembaga negara lain. Dalam kasus-kasus agraria, alumni CEFIL beranggapan bahwa negara sengaja melakukan pembiaran.

Dalam perjuangan rakyat terhadap hak atas kepemilikan tanah, masyarakat dinilai tidak solid. Masyarakat terkesan bergerak sendiri-sendiri. Hal miris yang menjadi keprihatinan alumni CEFIL adalah setelah memenangkan perkara atas hak milik tanah, masyarakat justru menjualnya. Tanah tidak diusahakan untuk kesejahteraan bersama.

Isu-isu gender, perempuan, dan anak menjadi tema yang dianggap krusial oleh para alumni. Lembaga-lembaga non pemerintah (NGO) yang ada, baik di Sumatera Utara maupun di wilayah Indonesia secara umum, dinilai tidak solid. Dari sisi internal, perempuan yang diabaikan oleh negara juga kurang memperhatikan kesehatan dan alat reproduksinya sendiri. Alumni menilai, pemerintah tidak melakukan sosialisasi kesehatan reproduksi dengan baik. Begitu juga hal-hal yang dianggap kecil tetapi penting untuk anak-anak dan perempuan tidak mendapat porsi perhatian yang baik. Alumni mencontohkan, penyediaan ruang bermain anak gratis, nyaman, dan aman, ruang dan waktu yang khusus diberikan untuk ibu menyusui, parkir khusus perempuan, serta terpenting pembangunan berbasis perspektif gender.

Hal krusial lain yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah dan berbagai pihak antara lain, komersialisasi pendidikan, perburuhan, dan lingkungan hidup.

Rencana tindak lanjut

Temu Alumni CEFIL Regional Sumatera Barat menghasilkan tiga (3) buah rencana tindak lanjut. Di antaranya, menyelenggarakan pelatihan-pelatihan di tengah-tengah masyarakat Sumatera Utara, yang bisa dijadikan wadah sosialisasi dan rekomendasi peserta pelatihan CEFIL. Kedua, membuat bangunan sinergi berupa gerakan bersama dari berbagai bidang yang digeluti oleh alumni CEFIL di Sumatera Utara. Ketiga, melakukan konsolidasi alumni CEFIL asal Sumatera Utara dengan metode Pemanfaatan Media Sosial, membuat secretariat bersama, dan mengadakan sekolah pelatihan dengan memanfaatkan alumni CEFIL sebagai Trainer.





ShortURL: http://cefil.info/?p=120 |